Bagi Anda yang suka berwisata kuliner, khususnya masyarakat jawa timur yang punya selera dengan makanan tradisional pasti kenal dengan menu khas makanan tradisional Surabaya, yaitu semanggi. Yang bisa di dapatkan dengan harga Rp 4.000 saja per pincuk. Sayangnya makanan ini sekarang makin sulit untuk dijumpai, karena berkurangnya bahan baku daun semanggi,dan penjualnya juga semakin berkurang. Hanya ada di tempat tempat tertentu saja.Makanan khas Surabaya ini menggunakan bahan dasar daun semanggi yang dicampur dengan kecambah rebus, kemudian disiram bumbu yang terbuat dari ubi yang direbus dan dicampur gula jawa, garam, terasi, petis udang, cabai, dan kacang tanah. Menyantap semanggi kian unik karena menggunakan krupuk puli (bahan dasar beras) yang dijadikan sebagai sendoknya.
Selain penggemarnya yang sudah banyak berkurang, ternyata bahan baku berupa daun semanggi juga kian sulit didapat. Selama ini daun semanggi didapat dari salah satu desa di daerah Benowo. Bahan baku daun semanggi ini merupakan tumbuhan yang biasanya hanya tumbuh di persawahan dan aliran sungai.
Ibu Tukirah usia 60 Tahun asal Benowo, salah seorang penjual semanggi, menuturkan, mereka (para penjual) biasa berkumpul di kawasan Benowo kemudian berangkat bersama. ’’Kumpulnya di kawasan Benowo, kemudian nyarter bemo (angkot),” katanya saat kami temui di kawasan taman bungkul. Yang sebagian besar ibu-ibu paroh baya keatas penjualnya.Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dari usaha jualan semanggi , suami ibu Tukirah bekerja sebagai tukang parkir dan mempunyai empat orang anak. Walaupun hasil dari jualan ini kadang sering kurang, tapi ibu Tukirah merasa senang saja menjalaninya.
Kalau jualannya rame jam 14.00 atau jam 15.00 bisa langsung pulang, tapi kalau kurang laku bisa-bisa sampai larut malam baru pulang.
Sudah 15 Tahun ibu Tukirah berjualan Semanggi. Ia bertahan karena memang ingin mempertahankan makanan tradisional ini. ’’Juga karena nggak ada saingannya,” ujar pedagang yang kerap melepas dagangannya karena ditebas pembelinya untuk sebuah acara.
Selain di Taman Bungkul, penggemar semanggi bisa mencari di Jl. Dempo. Titik (58) mengaku telah berjualan semanggi sejak 1956 saat ia masih berusia empat tahun. Ini jadi pilihannya karena ingin meneruskan usaha ibunya. ’’Ini sudah turun-temurun dari ibu dan nenek saya,” ujar wanita yang membuka depotnya mulai pukul 08.00-14.00 dan 17.00 - 21.00.
Tentang siapa saja pembeli semangginya yang dijual Rp 8.000/pincuk, dia menyebut cukup banyak dan beragam. ’’Masih ada anak-anak muda, tapi yang lebih banyak ya orang yang lebih tua,” ungkap ibu lima anak ini.
Titik juga mengakui bahan baku daun semanggi semakin sulit didapat. Selama ini ia mendapatkan daun semanggi dari saudaranya di kawasan Benowo.
Tak hanya di jalanan, kini semangi juga ’’naik kelas” dengan masuk ke food court dan hotel. Di food court di Galaxy Mall seporsi semanggi dihargai Rp 11.000, sedang di food court Alas Kutho di kawasan Citraland Rp 15.000. Di Surabaya Plaza Hotel, sajian semanggi ini bisa didapatkan dengan harga Rp 12.000 per porsi.
Pembeli semanggi di mall rata-rata memang sudah berusia lanjut. Kalangan muda banyak yang tidak tahu apa itu semanggi. Kalaupun mengenal, mereka lebih memilih masuk ke restoran fast food.
Satu hal lagi yang dikhawatirkan dari keberadaan semanggi, kian berkembangnya kawasan Benowo, lahan untuk menanamnya pun semakin berkurang. Bisa dipastikan keberadaan makanan khas Surabaya ini kian rentan musnah.
Bahan-Bahan:
Daun semanggi secukupnya (sesuai selera)
Seperempat kg kecambah
Seperempat Kg kerupuk puli
Seperempat kg petis udang
Cabe Rawit sesuai selera
Bumbu:
2 kg ketela
Seperempat kg gula merah
Seperempat kacang tanah
Cara membuat:
Bumbu: rebus ketela dan goreng kacang tanah,Kemudian tumbuk ketela dan kacang tanah bersama gula merah . Sebagai tambahan, bisa ditambahkan petis udang dan sambal.
Daun Semanggi:
cuci daun semanggi sambil dihilangkan batangnya
Kemudian rebus daun semanggi
Cuci kembali dan peras airnya
Cuci kecambah dan rebus
Goreng kerupuk puli
Lalu sajikan daun semanggi dan kecambah dengan taburan bumbu serta kerupuk puli.
Penulis : SLV

0 komentar:
Posting Komentar